Pendidikan dan Demokrasi ala Tempe

Fakta hubungan korelasional antara pendidikan dan demokrasi jelas
terlihat di negara maju, dengan tingkat pendidikan tinggi memang banyak
dijumpai di negara-negara yg menggunakan demokrasi. Pendidikan dan
demokrasi apakah ada hubungan korelasional?.
“Many forms of Government have been tried, and will
be tried in this world of sin and woe. No one pretends that democracy
is perfect or all-wise. Indeed, it has been said that democracy is the
worst form of government except all those other forms that have been
tried from time to time.”
—Winston Churchill (Hansard, November 11, 1947)
Churchill mengetahui bahwa demokrasi tidak hanya satu macam saja, dan harus selalu dikembangkan.
Mana duluan ?
Coba kita lihat saja dua region sebagai pembanding Asia dan Eropa (+Amrik).
Kalau dilihat dari region (area) negara-negara maju ini kebanyakan
berada di Eropa dan Amrik. Kedua region ini memang sejak awal sudah maju
pendidikannya, kemudian menumbuhkan kesadaran berdemokrasi. Di Asia,
Indonesia termasuk yg paling maju demokrasinya tapi terpuruk
pendidikannya. Ntah mana yg salah tapi jelas di Indonesia sebelumnya
lebih maju dari Malesa namun setelah reformasi dengan mengadop demokrasi
gaya amrik (lebih ke liberal) malah terpuruk pendidikan maupun
ekonominya. Sebelumnya Indonesia menganut demokrasi terpimpin gaya
SoeKarno, dan Demokrasi Pancasila yang dipakai SoeHarto untuk berkuasa
selama 32 tahun. Sayangnya SoeHarto keenakan jadi pemimpin sampai
lupa, dan akhirnya dipaksa turun.
Reformasi masa perubahan
Reformasi merubah segala macam tatanan serta pikiran rakyat
Indonesia, termasuk mengkritik, mengemukakan pendapat bahkan mencemooh
presidennya. Disinilah terlihat saat demokrasi ‘versi Indonesia’ runtuh.
Reformasi yg di negara lain meruntuhkan kesatuannya, terutama
terlihat di Rusia, sebagai contoh klasik. Indonesia berusaha
mempertahakan kesatuannya, NKRI. Mempertahankan NKRI dibayar dengan
biaya suangat mahal, dibayar dengan darah, materi, bahkan banyak
kemunduran termasuk didalamnya pendidikan. Malesa, negeri jiran ini,
tidak mengikuti Indonesia. Tetap tidak menjalankan demokrasi ala Amrik,
tapi mempertahankan demokrasi versi malay. Ntah apapun tapi demokrasi
gaya sendiri. Demokrasi dengan mempertahankan monarchy, dan mengadakan
pemilihan umum.
Kenyataannya pendidikan serta ekonomi Malesa akhirnya melesat
mendahului gurunya, Indonesia. Oh ya PMnya adalah muridnya SoeHarto,
Mahatir. Hanya saja Mahatir murid yang pandai sehingga belajar dari
gurunya, beliau turun tahta dengan gagah. Walau tetap tidak mengadop
demokrasi liberal (amrik), Malesa justru maju karena mempertahankan “
gaya lokal” mempertahankan “
kearifan lokal“-nya.
Tahu ndak kearifan lokanya ? RASIS. Ya rasis merupakan gaya lokal yg
dipertahankan walau dicemooh negeri lain. Namun kenyataannyannya di Asia
Malesa terlihat melesat setelah gonjang-ganjing ekonomi menjelang abad
21.
Fakta korelasional bukan kausal.
Demokrasi liberal pada kenyataannya memang berkorelasi denga negara2
yang paling maju. Tentunya harus diingat mereka maju pendidikannya
sebelum mengadop demokrasi
kampret, eh demokrasi liberal.
Karena demokrasi kampret, eh liberal ini memerlukan tingkat pendidikan
dan kesadaran politik yg tinggi, itulah yg menyebabkan negara-negara
maju saat ini pas dan tepat menggunakan demokrasi liberal.
“Pakdhe, jadi harus pinter dulu baru berdemokrasi, atau demokrasi dulu supaya pinter ?”
“Faktanya, tidak selalu proses itu bisa dibalik dengan mudah”
Nah Indonesia “
sudah terlajur” mengadopsi demokrasi
kampret,
eh demokrasi liberal. Segalanya dipilih langsung, voting menjadi salah
satu bahkan satu-satunya cara memutuskan. Dan faktanya Indonesia
terpuruk disisi ekonomi, pendidikan dan moralnya (morale=semangat)nya.
Kebanggaan pada negerinya seakan menguap hilang secara tiba-tiba pasca
reformasi. Tapi ada yg maju yaitu tingkat (indeks) korupsinya.
Whallah !
Sejarah tidak dapat diulang,
Tapi masa depan dapat diperbaiki
Nah kalau menegok diatas, mana yg akan dilakukan. Kembali kemasa lalu
jelas ndak mungkin. Mas Kja, Mas Komo, Pakde Pdst dan juga saya, sudah
terbiasa ngablak mengkritik. Mana mungkin dicabut keleluasaan ngomongin
pak presiden dan DPR. Ghihihi. Reformasi bukan proses reversable, bukan
proses yang bisa diulang. Tapi perjalanan harus terus dilanjutkan.
Jogja merupakan propinsi istimewa karena masih menjalankan sistem
monrachi. Pemimpinnya seorang Raja yang juga menjadi gubernur. Tahta
raja di Jogja sudah bertahan hingga ke Sultan ke X, kalau saja satu
generasi 20 tahun, maka fakta penting menunjukkan bahwa kerajaan ini
telah berfungsi dengan baik selama 200 tahun. Dan juga harus diakui
fakta bahwa Jogja memiliki tingkat pendidikan serta tingkat ekonomi
bagus dibandingkan propinsi-propinsi lain.
Nah apakah sisa-sisa gaya kepemimpinan menggunakan kearifan lokal
seperti yg ada di Jogja dihilangkan sekalian supaya kita bener-bener
mutlak menjadi demokrasi
kampret, eh demokrasi liberal ?
Ataukah mencoba menggali ulang supaya mendapatkan jenis demokrasi gaya
Indonesia yang pas dibadan kita ?
Sumonggo, silahkan saja.
sumber : http://tempe.wordpress.com/2010/12/27/pendidikan-dan-demokrasi-ala-tempe/